Referensi
- Mengelola Partai Politik; Komunikasi dan Positioning Ideologi Politik di Era Demokrasi
- Firmanzah Ph.D.
- Yayasan Obor Indonesia
- 2008
- Ideologi
- 397 halaman
Pesta demokrasi terbesar di Indonesia, Pemilu 2009, sudah dimulai. Sebanyak 34 partai politik (parpol) peserta pemilu saling bersaing untuk meraih simpati, mencari dukungan publik dan mendulang suara. Pada akhirnya, tentu hanya parpol kuat, profesional dan berideologi yang akan menjadi pemenangnya.
Pertanyaannya, seperti apa bentuknya? Lantas, bagaimana cara mengelolanya? Melalui buku berjudul Mengelola Partai Politik; Komunikasi dan Positioning Ideologi Politik di Era Demokrasi –Firmanzah membeberkan rahasianya secara gamblang, dengan bahasa yang cerdas dan mudah dicerna.
Dukungan besar dan luas, menurut Firmanzah, rasanya sulit diperoleh parpol tanpa “pengikat sosial” yang bisa dikomunikasikan kepada rakyat, yang dalam dunia politik berbentuk ideologi. Ketidakjelasan ideologi membuat perjuangan parpol akan tercerai berai serta tidak berpola dan muaranya tentu akan melemahkan dukungan serta menurunnya legitimasi politik. Ideologi sangat diperlukan parpol agar mampu menjembatani persepsi masing-masing individu, sehingga memunculkan persepsi tunggal yang merupakan basis perjuangan.
Perlunya pembumian ideologi politik oleh parpol guna membantu para pemilih dalam menentukan pilihan mereka di antara banyaknya pilihan partai. Parpol yang mampu menanamkan ideologinya dibenak masing-masing pemilih, Firmanzah meyakinkan, niscaya dapat menarik keuntungan dengan mudahnya para pemilih dalam mengingat dan mengidentifikasikannya. Hal ini sekaligus akan mengurangi situasi ketidakpastian yang mungkin saja menghantui para pemilih. Untuk itu, ideologi politik harus menjiwai setiap aktivitas organisasi parpol, baik berupa pernyataan, kritikan, program, maupun isu politik.
Sayangnya, tegas Firmanzah, tidak ada satu pun ideologi yang mampu menyelesaikan kerumitan problem masyarakat sekarang. Karena itu dibutuhkan beragam perspektif dan dimungkinkan konsensus. Inilah tugas dan tanggung jawab parpol dan para politisinya. Maka, mengadopsi ide dan gagasan dari ideologi lain tidak terelakkan. Dengan demikian, ideologi politik yang dianutnya akan bertambah kuat, karena mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan masyarakat tanpa kehilangan karakteristik dasar.
Lebih lanjut Firmanzah mengemukakan, semakin tingginya tekanan persaingan politik membuat politikus lebih beroirentasi pada cara-cara untuk memenangkan pemilu semata sebagai program jangka pendek. Padahal, alasan pendirian parpol untuk perjuangan politik berdasarkan sistem nilai dan visi politik yang diembannya, sementara peran utama dan target jangka panjangnya sebagai lembaga kaderisasi dan edukasi politik untuk melahirkan calon-calon pemimpin berkualitas di masa mendatang.
Makna ideologi memang sangat terkait erat dengan “kekuasaan”, sebab ideologi politik bisa menjadi alat atau instrumen untuk mencapai kekuasaan. Untuk berkuasa dibutuhkan ideologi tertentu. Sebaliknya, kekuasaan tidak akan bisa dipertahankan tanpa ideologi yang jelas.
Buku ini secara terang-terang menyinggung bahwa pengelolaan partai yang hanya mengandalkan figur kharismatik akan kesulitan untuk mengelola kompleksitas konstituen dan masyarakat. Saat ini semakin diperlukan pembangunan institusi melalui pengembangan dan implementasi sistem internal dalam tubuh organisasi parpol. Sehingga pengelolaan parpol tidak bergantung hanya kepada satu atau kelompok elite organisasi. Hal ini dipercaya akan meningkatkan kesinambungan perjuangan parpol.
Fakta yang menarik dari buku ini, tema bahasan parpol ditinjau dari disiplin ilmu ekonomi dan manajemen, karena ditulis oleh seorang ekonom muda yang sebelumnya sukses menulis buku Marketing Politik.
| Sumber | : | PERADA Koran Jakarta 4 Agustus 2008 |

