Referensi

Arsip Referensi By 09/2008
Senin, 22 September 2008 00:00:00
PERINGATAN
Kategori: Buku
Dalam buku kecil Mosi Integral Natsir: Dari RIS ke NKRI", Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Natsir, Laode M Kamaluddin, memberikan catatan ringkas atas mosi ini. Mosi integral dengan tokoh utamanya Natsir, ia nilai sebagai prestasi gemilang dan monumental yang pernah dicapai oleh parlemen Indonesia. Natsir, tulis Kamaluddin, mampu menyatukan kembali Indonesia yang terpecah belah dalam pemerintahan negara-negara bagian atau federal buatan Van Mook menjadi NKRI yang kita kenal sekarang ini.
0
Komentar
 
Rabu, 17 September 2008 19:11:49
Kategori: Buku
Gambaran di atas merupakan keresahan yang diuraikan Mohammad Sobary dalam bukunya Kesalehan Sosial (2007). Buku ini menjadi menarik, menurut penulis, karena obyek yang diuraiannya dikaitkan dengan pemahaman ala Weberian, yaitu paham yang menghubungkan pemahaman agama (baca: kristen) dengan perkembangan kapitalisme di Barat, yang kemudian dikenal dengan Etika Protestan.

Bagi Kang Sobary, sebutan yang dikenal, dengan mengutip Syair WS Rendra, “Kita orang asing di tanah nenek moyang kita” (hal.245).
0
Komentar
 
Rabu, 10 September 2008 18:21:13
Kategori: Buku
Mau tahu negeri mana yang menggaji ibu rumah tangga? Ingin tahu negeri mana yang menggratiskan pendidikan dan kesehatan? Itulah yang sekarang sedang berjalan di Amerika Latin. Presidennya dengan keberanian yang memukau, menasionalisasi puluhan perusahaan asing dan dengan ”nekat” membagi susu sekaligus beras gratis untuk penduduk miskin. Di sana, seorang dokter harus bertanggung jawab pada puluhan keluarga miskin. Rakyat benar-benar diurus dan mereka yang miskin mendapat prioritas pelayanan. Presidennya hidup sederhana, dan tidak pernah merasa gentar dengan Amerika. Inilah kisah tentang Presiden Radikal yang tidak hanya memenangkan pemilu tapi juga memenuhi harapan rakyat kecil.
0
Komentar
 
Senin, 01 September 2008 17:09:43
Kategori: Buku
"Adanya hasrat dari kalangan SBY-JK untuk berpaket kembali atau pun secara terpisah menunjukkan keyakinan bahwa janji-janji dan komitmen mereka seperti yang saya baca dalam buku ini rasanya telah ditebus secara perlahan. Proses demokratisasi, desentralisasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat relatif baik dan terbebas dari IMF. Pemberantasan korupsi belum memuaskan masih bertumpu pada penguatan institusional. Yang menonjol adalah pelaksanaan demokrasi di Indonesia jauh lebih baik dari Singapura dan Malaysia. Kabinet ekonominya belum "menggigit" menangani makroekonomi." (PROF. DR. AMRAN RAZAK, SE, M.SC, Guru Besar FKM Universitas Hasanuddin Makassar).
0
Komentar