Berita
Sabtu, 19 April 2008 17:46:01
Kritik Biasa Asal Konstruktif dan Solutif
Akbar Ajak Politikus Bersaing Sehat
Kategori: Dari Redaksi
Dikerubuti tamu undangan yang ingin bersalaman dan berfoto bersama seusai memberikan sambutan di Ballroom Hotel Swarna Dipa Palembang (18/04/08)
Dalam sambutannya Walikota Palembang Eddy Santana Putra memanggil Akbar dengan sebutan calon presiden. "Selamat datang kepada Bang Akbar Tandjung tokoh nasional kita sekaligus calon presiden atau wakil presiden 2009", kata Eddy dari atas podium. Sontak, spontanitas Eddy disambut riuh tepuk tangan ratusan undangan yang hadir. Eddy berterima kasih atas kesediaan Akbar untuk menghadiri acara malam dana menjelang Kongres HMI di Palembang. "Saya bukan alumni HMI melainkan KNPI tetapi cukup dekat dengan HMI", ujar Eddy. Memang, sejak aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan wali kota Palembang itu sering berinteraksi dengan pengurus dan kader HMI.
Bupati Musi Rawas Ridwan Mukti memuji Akbar yang sudah dianggapnya sebagai guru. "Bang Akbar itu guru saya sejak baru belajar politik sampai sekarang saya jadi bupati", ujar Ridwan. Menurut Ridwan dia mengenal Akbar sebagai senior yang sabar mengajari dan membimbing juniornya mulai dari awal sampai berhasil berkarir di bidang politik.
Senada dengan Ridwan, Bupati Amiruddin Inoed juga menganggap Akbar sebagai tokoh nasional yang mempunyai konsen dan kepedulian kepada daerah. "Bang Akbar itu salah satu tokoh yang rajin berkunjung ke daerah", kata Amiruddin. Bupati Banyuasin itu juga mengatakan bahwa apresiasi masyarakat daerah cukup tinggi terhadap setiap kunjungan Akbar. "Siapa yang tidak kenal beliau", tandasnya.
Kehadiran pejabat teras Sumatera Selatan tersebut membuktikan bahwa apresiasi daerah khususnya Sumatera bagian selatan masih cukup tinggi terhadap Akbar.
Dalam pidatonya Akbar mengingatkan elit politik baik nasional maupun lokal untuk bersaing secara sehat. Menurutnya budaya cara-cara menjatuhkan lawan secara tidak etis harus dihilangkan. "Berkompetisi itu biasa tetapi harus fair sesuai aturan main yang berlaku", tegasnya. Misalnya dalam mekanisme pemilihan ketua umum partai dalam hal ini Golkar, yang dialami sendiri oleh Akbar pada Mukernas Golkar di Bali tahun 2004. "Saat itu ada persaingan antara saya dengan Pak Jusuf Kalla dan dia yang menang maka saya terima hasilnya", jelasnya. Akbar menekankan pada komitmen untuk menerima kekalahan dengan besar hati sebagai bentuk persaingan yang sehat.
Indikasi persaingan tidak sehat lainnya tercermin dengan kampanye hitam menjelek-jelekkan lawan politik. "Kalau kita merasa yakin benar kenapa mesti menjelekkan pihak lawan", tukas Akbar. Ia mengajak politikus untuk menonjolkan keunggulannya dengan demikian masyarakat pemilih akan teryakinkan bahwa calon tersebut layak untuk dipilih.
Akbar melanjutkan, persaingan sehat dalam politik relevan dengan dinamika politik Indonesia saat ini. Terutama terkait pilkada yang diikuti banyak calon dari berbagai partai politik. Akbar mengajak setiap calon dan pendukungnya untuk siap menang dan siap kalah. "Kompetisi artinya harus ada yang menang dan harus ada yang kalah", jelasnya. Dia menilai kekisruhan beberapa pilkada termasuk yang terakhir pilkada Maluku Utara merupakan bentuk ketidakdewasaan dalam berpolitik. Mereka yang tidak menerima kekalahan menjadi kalap dan melakukan berbagai upaya untuk menggagalkan kemenangan lawan.
Dalam konteks elit politik nasional dia menyinggung soal kritik mengkritik antar elit. Menurutnya kritik merupakan bagian dari demokrasi yang kalau dilakukan secara proporsional justru menyehatkan politik itu sendiri. "Kita yang diluar struktur tugasnya memang mengkritik, kritik yang solutif", tambah Akbar. Ia mencontohkan kritiknya atas kinerja Ketua Umum Golkar Jusuf Kalla yang dinilainya tidak maksimal membawa kemenangan Golkar di beberapa pilkada. "Saya bilang Golkar harus evaluasi, malah saya dituduh ingin menggulingkan ketua umum, ini kan reaksi yang berlebihan", tambahnya. Namun ia masih menilai hal tersebut masih dalam batas kewajaran.
Selain urusan kritik, Akbar juga menyayangkan pengurus Golkar yang sekarang yang tidak melibatkan pengurus lama untuk berbagi pengalaman. "Waktu saya jadi ketua umum saya undang pengurus lama karena mereka telah mempunyai pengalaman", cerita Akbar. Menurut Akbar pelibatan itu penting karena Golkar merupakan partai besar yang mempunyai yang sejarah panjang dan wilayah organisasi yang luas di seluruh Indonesia. "Saya 30 tahun lebih di Golkar, tidak mudah mengelola partai sebesar ini", pungkas Akbar. (dhyt)
Komentar Terkini (
0
komentar)
Loading...

