Berita
Rabu, 30 April 2008 07:40:06
Peran Kelompok Islam Dalam Kebangkitan Nasional
Kategori: Dari Redaksi
”Islam adalah kekuatan integratif bagi kelangsungan Republik Indonesia,” ucap sejarawan Anhar Gonggong yang menjadi pembicara di acara tersebut selain K.H. Ali Yafie, Anhar Gonggong, K.H. Sholahuddin Wahid dan Akbar Tandjung.
Pada abad ke-20, menurutnya kelompok Islam telah menciptakan strategi baru dalam berjuang. Dalam kurun waktu 1908 – 1945, kelompok islam menggunakan konsep perjuangan yang menurut istilah Anhar Gonggong adalah ”strategi otak-rasional”. Yaitu dengan menciptakan organisasi.
Anhar Gonggong memberikan contoh dengan didirikannya Nahdlatul Ulama yang menurutnya sebagai langkah cerdas. Selain itu terdapat juga Sarekat Islam yang disebut-sebut sebagai organisasi politik pertama di Indonesia. ”Perlawanan inilah yang berhasil,” cetus Anhar.
Sehingga setelah itu, pembuatan UUD 1945 menurutnya adalah hasil dari dari banyak kekuatan politik pada saat itu. Termasuk kekuatan politik islam. ”Sehingga UUD 1945 bisa dikatakan sebagai karya dari pemimpin-pemimpin Islam pada masa tersebut,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, menurut K.H. Ali Yafie, 29 April merupakan salah satu hari bersejarah perjuangan kelompok Islam bagi bangsa Indonesia. Karena tepat 63 tahun yang lalu, terbentuklah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bertugas untuk menggodok rancangan UUD 1945.
Di dalam BPUPKI inilah, terdapat salah satu anggota aktif yang sangat penting dikala itu. Yaitu, K.H. Wahid Hasyim. ”Oleh karena itu, banyak sekali terdapat nilai-nilai Islam dalam UUD 1945,” jelas K.H. Ali Yafie. Bahkan, menurutnya undang-undang dasar suatu negara yang tujuannya mengatur masalah konstitusi, termasuk juga ke dalam cabang ilmu fiqih dalam Islam.
Akbar Tandjung sebagai salah satu panelis menguatkan pandangan K.H. Ali Yafie. Menurutnya, terdapat pasal-pasal dalam UUD 1945 yang merujuk pada konsep-konsep Islam. ”Banyak sekali pasal-pasal yang bersumber dari ajaran Islam,” tegas Akbar Tandjung.
Sementara itu, pada gilirannya Sholahuddin Wahid menekankan pentingnya memperingati kebangkitan nasional. ”Orang Islam harus memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Karena kita semua juga merupakan pelakunya,” seru Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang biasa dipanggil Gus Sholah ini. Menurutnya, dengan memperingati Kebangkitan Nasional, berarti kita juga menghormati perjuangan leluhur.
Menurutnya, jauh sebelum kemerdekaan, K.H. Hasyim Asyari pernah berjumpa dengan santri-santri di Mekkah yang berasal dari tanah air yang ternyata juga sudah memiliki sikap anti kolonialisme. ”Kemudian sikap itulah yang digumpalkan oleh mereka, dan disebarluaskan ketika mereka kembali ke tanah air,” jelas Gus Sholah.
Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa rasa kebangsaan di Indonesia tumbuh pula dari sejarah keislaman. ”Hal tersebut bagaikan dua sisi mata uang, tidak bisa dipisahkan begitu saja,” tegas Gus Sholah. (gees)
| Sumber | : | source |
Komentar Terkini (
0
komentar)
Loading...

