Berita
Banda Aceh – Kritik yang disuarakan oleh Mantan Ketua Umum Partai Golkar, Akbar Tandjung tidak mendapat tanggapan yang baik dari Kepemimpinan Partai Golkar di tingkat pusat. Padahal, menurut Akbar, ia tidak bermaksud untuk mendiskreditkan.
“Harusnya Kepemimpinan Golkar menerimanya sebagai koreksi,” ujar Akbar Tandjung ketika ditanya awak media mengenai tanggapannya atas pernyataan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla.
Sebelumnya, Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla menyatakan bahwa Akbar Tandjung tidak pantas untuk memberi pernyataan pesimistis. Terkait dengan prediksi Akbar mengenai turunnya jumlah pemilih Partai Golkar pada Pemilu 2009, dengan melihat berbagai kekalahan yang dialami Partai Golkar pada pelaksanaan Pilkada.
Kemudian, pada acara santap pagi yang dilakukannya bersama beberapa awak media di Nanggroe Aceh Darussalam, Senin (2/6) tersebut, Akbar menyatakan bahwa dirinya bermaksud untuk memberi semangat untuk memperbaiki, bukan untuk mendiskreditkan.
Hal ini menunjukkan bahwa irinya masih mempunyai perhatian yang mendalam terhadap Partai Golkar. “Semuanya demi kemajuan Partai Golkar itu sendiri,” tambahnya. Ia pun menampik anggapan bahwa dirinya bermaksud untuk mengambil alih kepemimpinan Partai Golkar. “Cukup sudah saya menjadi Ketua Umum Partai Golkar,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa kritiknya tersebut harusnya ditindak lanjuti dengan langkah-langkah evaluasi, introspeksi, dan otokritik. Akbar pun memberi langkah yang bisa diambil oleh Partai Golkar. “Misalnya dengan melakukan perubahan komposisi pengurus,” ujarnya kemudian.
Perekrutan kader yang dijalankan Partai Golkar saat ini pun tak luput dari pengamatan Akbar Tandjung. Ia mengatakan, “Perekrutan kader harus menggunakan Meryt System.” Yaitu penilaian secara obyektif.
Dimana Partai Golkar sebelumnya juga sudah mempunyai tolok ukur tersendiri. Yaitu, Perstasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela. “Sehingga tidak ada nepotisme dalam perekrutan kader,” tambah Akbar Tandjung.

