Berita
Pontianak – Rangkaian peristiwa penting yang menjadi tonggak sejarah modern perjuangan bangsa Indonesia merupakan sebuah proses perubahan yang terus berkesinambungan. Hal tersebut merupakan pokok pikiran yang disampaikan Akbar Tandjung di Kapuas Palace Hotel, Pontianak, Sabtu, (14/6).
Akbar Tandjung mengingatkan kembali bahwa pergerakan nasional diawali dengan munculnya rasa nasionalisme dari orang-orang muda yang terpelajar pada awak abad ini. Kemudian, rasa nasionalisme tersebut melahirkan persatuan dan kesatuan yang terwujud pada Sumpah Pemuda.
“Dari kedua hal inilah kita berhasil menghasilkan proklamasi kemerdekaan Indonesia,” papar Akbar Tandjung. Kemerdekaan pun menghasilkan sebuah konstitusi. Sebuah dasar, tujuan dan bentuk negara ini.
Selain proses yang berkesinambungan tersebut, Akbar meminta agar semua juga harus siap untuk perubahan. “Penting untuk bangsa kita,” tegasnya. Ia memeberi contoh pada peristiwa reformasi, dimana terjadi perubahan sekaligus kesinambungan.
Pada Dialog Kebangsaan Dalam Rangka Hari Kebangkitan Nasional & Kelahiran Pancasila dengan tema “Mempertegas Jati Diri Bangsa dan Memperkokoh Komitmen Berbangsa dan Bernegara dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia”, hadir pula sebagai pembicara, Aqil Muchtar, anggota Komisi III DPR-RI dan Jumadi, Dosen Universitas Tanjungpura.
Aqil Muchtar pada dialog tersebut menjelaskan beberapa perubahan dalam segi hukum di Indonesia pasca reformasi. Seperti tertulis secara nyata bahwa Indonesia adalah negara hukum setelah dilakukannya amandemen.
Kemudian lahirnya lembaga-lembaga hukum seperti Mahkamah Konstitusi dan Komisi Yudisial yang mengacu pada aturan hukum modern abad ke-20. “Dalam rangka menghilangkan proses penegakkan hukum yang bias,” ujarnya.
Sementara itu, Jumadi mengemukakan berbagai permasalahan sosial dan politik di era otonomi. Dialog yang diselenggarakan oleh gabungan 12 ormas di Kalimantan Barat, termasuk Barindo tersebut juga menghadirkan Sri Sultan Hamengku Buwono X yang mengisi sesi berikutnya.
(gees)

