Berita
Jakarta – Bergulirnya wacana koalisi antara Partai Golkar dengan PDIP semakin menguat beberapa hari terakhir ini. Akan tetapi realisasi koalisi tersebut dinilai oleh Akbar Tandjung hanya mungkin terlaksana setelah melihat hasil pemilu legislatif.
“Paling memungkinkan setelah pemilu legislatif,” ujar Akbar Tandjung pada acara “Dialog Bersama Bang Akbar” yang ditayangkan Selasa, (2/9). Walaupun sudah ada pertemuan-pertemuan diantara tokoh kedua partai tersebut, akan tetapi menurutnya kemungkinan koalisi tersebut tergantung dari hasil perolehan suara masing-masing partai pada pemilu legislatif.
Hal ini dikarenakan, sejak jauh hari PDIP telah menetapkan Megawati sebagai calon presiden yang bakal diusungnya pada pemilihan presiden mendatang. Sebagai partai pemenang Pemilu 2004, Partai Golkar tentu saja enggan buru-buru menyerah dan memposisikan tokohnya hanya sebagai pendamping Megawati. “pasti ada aspirasi-aspirasi dari dalam Partai Golkar,” jelas Akbar Tandjung.
Mengenai koalisi, Akbar Tandjung berpendapat bahwa hal tersebut merupakan sesuatu yang normal dalam dunia perpolitikan kita. Akan tetapi, koalisi yang dibentuk harusnya dilandasi oleh kesamaan-kesamaan platform, visi, dan tujuan bersama. Ia pun memberikan contoh seperti UMNO di Malaysia yang memiliki koalisi Barisan Nasional.
Kemudian ia pun bercerita mengenai Koalisi Kebangsaan di DPR yang dibentuknya pada 2004. Yakni Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Partai Persatuan Pembangunan, dan Partai Damai Sejahtera. Selain untuk memenangkan Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi, koalisi ini juga bertujuan sebagai kekuatan penyeimbang dalam mekanisme “check and balances”.
Awal-awal perpecahan, penyebab kegagalan berlanjutnya, saran, serta berbagai pelajaran penting dalam membangun sebuah koalisi, seperti yang didapat dalam pengalamannya dengan Koalisi Kebangsaan dijelaskan dengan tuntas dalam dialog ini. Oleh karena itu, jangan lewatkan penayangannya.

