Berita
Rabu, 17 September 2008 20:59:44
Rizal Malarangeng: 30 Persen Akal-Akalan Elit
Akbar: 15 Persen Lebih Moderat Munculkan Pilihan Alternatif
Kategori: Dari Redaksi
Jakarta - Getolnya Partai Golkar yang menghendaki agar syarat minimal pencalonan presiden didukung oleh sekurang-kurangnya 30 persen suara partai politik dinilai mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar tidak moderat. Senada dengan Akbar, Rizal Malarangeng menilai kuatnya angka tersebut dipatok sebagai strategi politik elit. Demikian ungkap keduanya dalam seminar yang digagas Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Rabu (17/09/08) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Selain Akbar dan Rizal, sebagai pembicara antara lain Letjen M Yusuf dan KH Sholahudin Wahid. "Tiga puluh persen diprediksi hanya dua calon kuat yaitu SBY dan Mega," ungkap Akbar. Prediksi senada juga diungkap oleh Gus Sholah panggilan akrab KH Sholahudin Wahid yang juga adik kandung mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur. "Akan mengerucut menjadi dua nama itu," ujar pimpinan pondok pesantren Tebu Ireng Jombang tersebut.
Akbar Tandjung mengatakan bahwa dengan angka syarat minimal dukungan 30 persen maka masyarakat tidak mempunyai kesempatan memiliki calon alternatif. "Idealnya ada 3 sampai 4 calon sehingga muncul calon alternatif," usulnya. Menurut Akbar angka syarat minimal yang moderat adalah 15 persen. "Menurut saya angka itu cukup moderat," katanya.
Senada dengan Akbar dan Gus Sholah, adik kandung juru bicara presiden Andi Malarangeng, Rizal Malarangeng juga sepakat soal syarat minimal dukungan pencalonan presiden. "Kalau 30 persen masyarakat akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sama," terang Rizal yang kini getol berkampanye di berbagai media dengan menyingkat dirinya sebagai RM09. "Nanti hanya akan ada pertandingan ulang seperti pilpres 2004," jelas Rizal.
Menurut Rizal seharusnya ada perluasan pemilihan. "Ini bukan soal menang atau kalah tetapi soal pilihan," tegas pembawa acara Metro TV tersebut.
Sementara itu Letjen M Yusuf menekankan soal kepemimpinan. "Sekarang ada pemimpin tetapi tidak ada kepemimpinan," tegas pria yang akan menjadi purnawirawan per Oktober 2008 mendatang.
Selain itu M Yusuf juga mengingatkan soal pentingnya menjaga rambu-rambu dalam perubahan bangsa dan negara. "Kalau tidak kita tidak tahu arahnya ke kiri atau ke kanan," jelasnya. M Yusuf menyebutkan rambu-rambu tersebut adalah bhinneka tunggal ika, NKRI, UUD 1945 dan Pancasila. (dhyt)
Selain Akbar dan Rizal, sebagai pembicara antara lain Letjen M Yusuf dan KH Sholahudin Wahid. "Tiga puluh persen diprediksi hanya dua calon kuat yaitu SBY dan Mega," ungkap Akbar. Prediksi senada juga diungkap oleh Gus Sholah panggilan akrab KH Sholahudin Wahid yang juga adik kandung mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur. "Akan mengerucut menjadi dua nama itu," ujar pimpinan pondok pesantren Tebu Ireng Jombang tersebut.
Akbar Tandjung mengatakan bahwa dengan angka syarat minimal dukungan 30 persen maka masyarakat tidak mempunyai kesempatan memiliki calon alternatif. "Idealnya ada 3 sampai 4 calon sehingga muncul calon alternatif," usulnya. Menurut Akbar angka syarat minimal yang moderat adalah 15 persen. "Menurut saya angka itu cukup moderat," katanya.
Senada dengan Akbar dan Gus Sholah, adik kandung juru bicara presiden Andi Malarangeng, Rizal Malarangeng juga sepakat soal syarat minimal dukungan pencalonan presiden. "Kalau 30 persen masyarakat akan dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sama," terang Rizal yang kini getol berkampanye di berbagai media dengan menyingkat dirinya sebagai RM09. "Nanti hanya akan ada pertandingan ulang seperti pilpres 2004," jelas Rizal.
Menurut Rizal seharusnya ada perluasan pemilihan. "Ini bukan soal menang atau kalah tetapi soal pilihan," tegas pembawa acara Metro TV tersebut.
Sementara itu Letjen M Yusuf menekankan soal kepemimpinan. "Sekarang ada pemimpin tetapi tidak ada kepemimpinan," tegas pria yang akan menjadi purnawirawan per Oktober 2008 mendatang.
Selain itu M Yusuf juga mengingatkan soal pentingnya menjaga rambu-rambu dalam perubahan bangsa dan negara. "Kalau tidak kita tidak tahu arahnya ke kiri atau ke kanan," jelasnya. M Yusuf menyebutkan rambu-rambu tersebut adalah bhinneka tunggal ika, NKRI, UUD 1945 dan Pancasila. (dhyt)
Komentar Terkini (
0
komentar)
Loading...

