Berita

Sabtu, 27 Desember 2008 21:29:11
Banyak Parpol Miskin Gagasan
Akbar: Hampir Tidak Ada Bedanya Antar Parpol
Kategori: Dari Redaksi
JAKARTA – Akbar Tandjung mengatakan bahwa lahirnya banyak parpol di Indonesia belum dibarengi dengan lahirnya banyak gagasan politik. Padahalnya sejatinya politik menurut Akbar adalah pertarungan gagasan politik. Hal senada diungkap mantan aktivis mahasiswa 1998 Budiman Sudjatmiko. Menurut Budiman idealnya parpol memberikan diferensiasi alternatif kepada pemilih. Namun di Indonesia belum terjadi penajaman pembedaan antar parpol satu dengan lainnya.  

Demikian ungkap keduanya dalam Dialog Kebangsaan bertajuk “Pemilu 2009 dan Arah Baru Budaya Politik Indonesia” yang digelar Jum’at, (26/12/08), di Universitas Paramadina Jakarta. Diskusi tersebut merupakan kerjasama antara Komunitas Baru Indonesia dan Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Paramadina.

“Antar partai hampir tidak ada bedanya,” kritik Akbar menanggapi banyak munculnya parpol pasca era reformasi. Akibatnya selain suhu politik yang terus memanas sepanjang tahun, rakyat juga dibingungkan dengan banyaknya pilihan parpol di pemilu 2009 mendatang. 

“Politik seharusnya ada ide atau gagasan yang dipertarungkan,” tegas Akbar. Mantan Ketua Umum DPP Partai Golkar itu menilai kondisi yang terjadi saat ini justru tidak menunjukkan hal tersebut.

Bahkan Akbar mengatakan bahwa banyaknya parpol di Indonesia hanya dijadikan kepentingan politik elit. “Hanya dijadikan kendaraan politik,” sindir Akbar. 

Akibatnya menurut Akbar terjadi penghalalan segala cara dalam meraih kekuasaan. Akbar mencontohkan sinyalemen jual beli nomor urut di internal partai dalam penentuan caleg. “Tetapi kini MK justru memutus yang dipakai suara terbanyak,” tegas Akbar.

Senada dengan Akbar, Budiman Sudjatmiko menekankan perlunya diferensiasi altenatif kepada pemilih. “Di negara yang demokrasinya matang seperti AS, Inggris atau Jerman partainya bisa dihitung dengan jari namun perbedaan programnya jelas dan mencolok sehingga pemilih tahu betul konsekuensi pilihannya,” papar Budiman.

“Di Indonesia yang terjadi adalah fragmentasi. Partai banyak tetapi idenya tidak banyak,” pungkas Budiman.

(dhyt)
 
 
Komentar Terkini (
0
komentar)
Loading...