Berita
Rabu, 11 Pebruari 2009 21:36:10
Cara dan Tujuan Demokrasi Harus Sama
Kaderisasi Parpol Mandeg, Akbar Kritik Tokoh Instan
Kategori: Dari Redaksi
JAKARTA – Tampilnya artis atau selebritis dan orang terkenal sebagai caleg dikritik Akbar Tandjung. Hal tersebut menurut Akbar adalah bukti lemahnya kaderisasi internal parpol. Pencarian tokoh secara instan menurutnya hanya bertujuan untuk meraih jabatan politis.
Demikian ungkapnya pada rangkaian acara Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di kantor PB HMI Jl. Diponegoro, Jakarta, Selasa, (10/2), siang. Selain Akbar tampil pula mantan Menkeu Fuad Bawazier dan Menpora Adhyaksa Dault sebagai pembicara. Ketiganya didaulat sebagai orator perdana dalam acara yang bertajuk “Orasi Kebangsaan 62 Jam Nonstop” yang digelar tanggal 10-11 Februari 2009.
Akbar tidak menampik tampilnya artis atau selebritis di kancah politik. “Politisi itu bukan profesi tetapi panggilan,” ujarnya. Ia mencontohkan dirinya yang seorang engineer, Fuad yang ekonom dan Adhyaksa yang lulusan hukum.
Menurut Akbar siapa pun berhak maju sebagai caleg atau capres atau cawapres. Namun ia mengingatkan bahwa mereka seyogyanya telah mengikuti proses kaderisasi sesuai mekanisme parpol. “Tidak bisa tiba-tiba muncul,” sergahnya.
Dalam konteks yang sama Akbar mengingatkan parpol untuk menjalankan fungsi aspirasi. “Parpol memperjuangakan aspirasi rakyat untuk diterjemahkan dalam kebijakan negara,” paparnya.
Menurutnya parpol juga mempunyai fungsi intermediasi yaitu menjadi saluran antara rakyat dan negara.
Menghadapi pemilu baik legislatif maupun presiden mendatang Akbar mencermati parpol hanya getol menjalankan fungsi rekrutmen politik. “Untuk mendapatkan jabatan-jabatan politis,” tandasnya.
“Itu pun tidak secara benar melalui kaderisasi,” tegas Akbar.
Cara dan Tujuan Demokrasi Harus Sama
Selain soal lemahnya kaderisasi parpol, Akbar juga mencermati soal sinkronisasi cara dan tujuan demokrasi.
Pemikiran yang menyatakan cara tidak penting yang penting tujuan akhirnya kesejahteraan menurut Akbar adalah salah. “Salah. Tidak benar. Cara berpikir seperti itu tidak komprehensif,” jelasnya.
Orasi Kebangsaaan 62 Jam Nonstop!
Akbar berbicara dalam acara “Orasi Kebangsaan 62 Jam Nonstop” yang digelar tanggal 10-11 Februari 2009. “Kami mengundang tokoh nasional dan lokal termasuk capres cawapres pilpres 2009,” ujar Ketua PB HMI Arip Musthopa.
Orasi tersebut menurut Arip dilakukan sebagai bentuk sumbangsih HMI terhadap bangsa dan negara. “Kami rekam dan kami dokumentasikan,” terangnya.
Orasi tersebut diharapkan memecahkan rekor MURI. “Kita sudah daftarkan ke MURI dan sekarang pelaksanaannya dilihat oleh notaris,” tutup Arip.
Terkait Dies Natalis-nya, HMI mengeluarkan maklumat yang berisi empat poin. Pertama, pembangunan karakter dan kedaulatan. Kedua, penguatan persatuan dan kesatuan. Ketiga, komitmen demokrasi yang berkhidmat pada kebijaksanaan. Keempat, peningkatan kualitas pemilu legislatif dan pemilihan presiden melalui pemilih yang cerdas.
Terkait maklumat poin ketiga Arip memberikan contoh. “Kita tidak mau demo yang anarkis misalnya di DPRD Sumut,” pungkasnya.
(dhyt)
Demikian ungkapnya pada rangkaian acara Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di kantor PB HMI Jl. Diponegoro, Jakarta, Selasa, (10/2), siang. Selain Akbar tampil pula mantan Menkeu Fuad Bawazier dan Menpora Adhyaksa Dault sebagai pembicara. Ketiganya didaulat sebagai orator perdana dalam acara yang bertajuk “Orasi Kebangsaan 62 Jam Nonstop” yang digelar tanggal 10-11 Februari 2009.
Akbar tidak menampik tampilnya artis atau selebritis di kancah politik. “Politisi itu bukan profesi tetapi panggilan,” ujarnya. Ia mencontohkan dirinya yang seorang engineer, Fuad yang ekonom dan Adhyaksa yang lulusan hukum.
Menurut Akbar siapa pun berhak maju sebagai caleg atau capres atau cawapres. Namun ia mengingatkan bahwa mereka seyogyanya telah mengikuti proses kaderisasi sesuai mekanisme parpol. “Tidak bisa tiba-tiba muncul,” sergahnya.
Dalam konteks yang sama Akbar mengingatkan parpol untuk menjalankan fungsi aspirasi. “Parpol memperjuangakan aspirasi rakyat untuk diterjemahkan dalam kebijakan negara,” paparnya.
Menurutnya parpol juga mempunyai fungsi intermediasi yaitu menjadi saluran antara rakyat dan negara.
Menghadapi pemilu baik legislatif maupun presiden mendatang Akbar mencermati parpol hanya getol menjalankan fungsi rekrutmen politik. “Untuk mendapatkan jabatan-jabatan politis,” tandasnya.
“Itu pun tidak secara benar melalui kaderisasi,” tegas Akbar.
Cara dan Tujuan Demokrasi Harus Sama
Selain soal lemahnya kaderisasi parpol, Akbar juga mencermati soal sinkronisasi cara dan tujuan demokrasi.
Pemikiran yang menyatakan cara tidak penting yang penting tujuan akhirnya kesejahteraan menurut Akbar adalah salah. “Salah. Tidak benar. Cara berpikir seperti itu tidak komprehensif,” jelasnya.
Orasi Kebangsaaan 62 Jam Nonstop!
Akbar berbicara dalam acara “Orasi Kebangsaan 62 Jam Nonstop” yang digelar tanggal 10-11 Februari 2009. “Kami mengundang tokoh nasional dan lokal termasuk capres cawapres pilpres 2009,” ujar Ketua PB HMI Arip Musthopa.
Orasi tersebut menurut Arip dilakukan sebagai bentuk sumbangsih HMI terhadap bangsa dan negara. “Kami rekam dan kami dokumentasikan,” terangnya.
Orasi tersebut diharapkan memecahkan rekor MURI. “Kita sudah daftarkan ke MURI dan sekarang pelaksanaannya dilihat oleh notaris,” tutup Arip.
Terkait Dies Natalis-nya, HMI mengeluarkan maklumat yang berisi empat poin. Pertama, pembangunan karakter dan kedaulatan. Kedua, penguatan persatuan dan kesatuan. Ketiga, komitmen demokrasi yang berkhidmat pada kebijaksanaan. Keempat, peningkatan kualitas pemilu legislatif dan pemilihan presiden melalui pemilih yang cerdas.
Terkait maklumat poin ketiga Arip memberikan contoh. “Kita tidak mau demo yang anarkis misalnya di DPRD Sumut,” pungkasnya.
(dhyt)
Komentar Terkini (
0
komentar)
Loading...

